Ide Kreatif adalah Artikel kretifitas anak Indonesia yang menyajikan berbagai macam informasi, tips, serta kisah unik dan menarik.

Sabtu, 21 April 2012

Mencari Kekayaan Di Gunung Kawi

Posted by admin On 19.24 No comments

Gunung Kawi, tempat mencari kekayaan!

Seperti dataran tinggi lainnya, Gunung Kawi menawarkan keindahan pegunungan asri dengan udara yang menyegarkan. Lebih dari itu, Gunung Kawi ternyata memiliki magnet lain yang sangat kuat sebagai daya tarik. Karena bagi sebagian orang, Gunung Kawi adalah salah satu tujuan wisata religius sekaligus simbol kemakmuran. Pesarehan Gunung Kawi merupakan daerah wisata yang unik, karena bertahun-tahun memendam mitos bahwa daerah ini merupakan tempat untuk mencari ‘pesugihan’ atau kekayaan, terutama bagi orang-orang keturunan Tionghoa. Siapapun yang datang kesini dan mendapatkan berkah maka usahanya akan maju dengan pesat dan meraih keuntungan yang berlipat-lipat. Yang paling menarik adalah hampir tiap tahun pesarehan ini penuh sesak dengan peziarah. Dan kebanyakkan mereka adalah orang-orang yang pernah datang kesini sebelumnya, mereka kembali karena telah mendapatkan ’pesugihan’ itu dan supaya tetap langgeng mereka harus datang lagi sesering mungkin. Konon banyak juga pengusaha etnis China ternama dari Jakarta yang sering datang ke tempat ini.
Kawasan Gunung Kawi, terletak di ketinggian 500 sampai dengan 3000 meter di atas permukaan laut. Persisnya berada di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang Jawa Timur. Dulu daerah ini disebut Ngajum. Namanya berubah menjadi Wonosari karena di tempat ini terdapat obyek wisata spiritual, berupa makam Eyang Raden Mas Kyai Zakaria alias Mbah Jugo, dan Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah Sujo. Wono berarti hutan, sedangkan Sari berarti inti. Namun bagi warga setempat, Wono Sari dimaksudkan sebagai pusat rezeki yang dapat menghasilkan uang secara cepat.

Kecamatan Wonosari memiliki luas hampir 67 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 43 ribu jiwa. Tempat ini berkembang menjadi daerah tujuan wisata ziarah sejak tahun 1980-an. Meskipun terletak terpencil di sebuah desa di atas bukit tapi anda akan menemukan keramaian yang luar biasa layaknya sebuah perkampungan di kota. Di sini ada banyak tempat hiburan malam, penginapan, restoran dan warung-warung kaki lima yang berjejalan di sepanjang kanan kiri jalan menuju komplek pesarehan. Padahal menuju daerah ini, sepanjang perjalanan anda masih tetap disuguhi pemandangan pedesaan dan pegunungan yang sepi. Daerah sekitar pesarehan ini merupakan daerah pertanian yang subur, penghasil ketela Gunung Kawi yang terkenal itu, sejenis ketela rambat kecil-kecil yang manis sekali rasanya. Ketela ini banyak dijual di area pesarehan sebagai oleh-oleh khas Gunung Kawi.

Di Gunung Kawi terdapat makam dua tokoh kejawen: RM Imam Soedjono [wafat 8 Februari 1876] dan Kanjeng Zakaria II alias Mbah Djoego (wafat 22 Januari 1871). Keterangan tertulis di prasasti depan makam menyebutkan, Mbah Djoego ini buyut dari Susuhanan Pakubuwono I (yang memerintah Kraton Kertosuro 1705-1717). Adapun RM Imam Soedjono buyut dari Sultan Hamengku Buwono I (memerintah Kraton Jogjakarta pada 1755-1892).

Berkunjung ke kawasan Gunung Kawi, suasana magisnya sangat terasa. Bau asap dupa tercium di mana-mana. Pada tahun 1200 masehi, lokasi ini pernah menjadi tempat pertapaan Prabu Kameswara, pangeran dari Kerajaan Kediri yang beragama Hindu, saat tengah menghadapi kemelut politik kerajaan. Konon, setelah bertapa di tempat ini, sang prabu berhasil menyelesaikan kekacauan politik di kerajaannya. Kini petilasan ini menjadi tempat pemujaan. Di kawasan ini juga terdapat beberapa tempat pemujaan lain, seperti pohon beringin tua yang berakar lima. Makam Eyang Jayadi dan Raden Ayu Tunggul Wati, keturunan Raja Kediri bertarikh 1221 masehi. Disamping itu terdapat makam juru kunci pertama Eyang Ssubroto, Eyang Djoyo, dan Eyang Hamit, yang juga tak luput dari mitos pesugihan.

Biasanya masyarakat melakukan pemujaan di keraton ini pada hari Kamis Legi, Jumat Kliwon dan malam Satu Suro. Pemujaan dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Ini merupakan areal makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo, terletak di ketinggian 700 meter Gunung Kawi. Tempat ini dikenal sebagai pasarean Gunung Kawi. Para peziarah datang ke makam ini, terutama saat tanggal 12 bulan Suro, hari Minggu Legi serta Jumat Legi. Tanggal 12 Suro selain Tahun Baru Islam, juga merupakan hari wafatnya Eyang Sujo. sedangkan hari Minggu Legi, diperingati sebagai hari wafatnya Eyang Jugo, dan Kamis Legi sebagai hari pemakamannya. Untuk memasuki pasarean ini, harus melewati tiga gapura, dan anak tangga sejauh 750 meter. Di setiap gapura terdapat relief perjuangan Eyang Jugo dan Sujo. Eyang Jugo, memiliki gelar Kyai Zakaria, sementara Eyang Sujo memiliki gelar Raden Mas Imam Sujono. Kedua tokoh ini, merupakan keturunan keraton Mataram, yang merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro, saat berjuang melawan penjajahan Belanda.
Tahun 1830 saat Pangeran Diponegoro ditawan dan diasingkan Belanda, para pengikutnya, termasuk Eyang Jugo, dan Eyang Sujo, melarikan diri ke tempat ini. Sejak itulah mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Selain menyebarkan agama Islam, mereka juga memberikan penyuluhan di bidang pertanian, dan kesehatan. Beginilah suasana tempat keramat ini saat malam Jumat Legi. Sejak Kamis sore para peziarah telah mulai berdatangan. Mereka berasal dari berbagai tempat. Bahkan ada yang datang dari luar Pulau Jawa. Tujuan mereka satu, untuk mencari berkah di Gunung Kawi.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para pezirah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja. mereka berjalan dengan lutut. Menurut RM Nanang Yuwono Hadiprojo, keturunan ke-5 RM Imam Sujono. Image bahwa tempat ini sebagai tempat pesugihan adalah tidak beralasan. Tempat pesugihan itu memiliki beberapa kriteria, antara lain, tempatnya menyeramkan, jauh dari pemukiman masyarakat, dan tidak ada tempat ibadah. Sementara di tempat ini, tempatnya tidak menyeramkan, dekat dengan pemukiman masyarakat, dan banyak tempat ibadah.

Sementara di luar makam, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon itulah yang disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Dari bentuknya, pohon ini mirip pohon cereme, yang diduga berasal dari negeri Cina. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat keberuntungan, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Namun, untuk mendapatkannya memerlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran. Sepeti halnya pada malam Jumat Legi ini. Salah seorang peziarah melakukan syukuran dengan menanggap wayang kulit. Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan berkah berziarah ke Gunung Kawi.

0 comments:

Poskan Komentar